"Aku tersesat menuju hatimu. Beri aku, jalan yang indah. Izinkanku lepas penatku, tuk sejenak lelah di bahumu... Tentang cinta, yang datang perlahan. Membuatku takut kehilangan. Kutitipkan cahaya terang, tak padam didera noda dan masa.... (tentang rasa, astrid)"
Aku bersyukur karena aku merasakan jatuh cinta. Kemarin, hari ini, dan mungkin esok hari. Tetapi ini sungguh berbeda. Aku bahagia bukan karena keindahan rasa yang timbul dari suatu gejolak, bukan... Bukan seperti mereka yang sedang berpacaran, jalan berdua, atau apapun itu...bukan,
Aku jatuh cinta kepada seseorang. Seperti ayahku-ayahmu pada ibuku-ibumu dan sebaliknya, Fatimah Azzahra pada Ali bin Abi Thalib, atau seperti Habibie dan Ainun. Aku tertawan oleh suatu sistem perasaan manusiawi yang secara tiba-tiba menyelubungi relung-relung hatiku. Aku tak mampu menolak perasaan ini. Bukankah cinta itu anugerah dari ilahi?
Aku jatuh cinta dan rasa itu bersemi kian lama di jiwaku. Membuatku tersenyum dalam embun-embun yang begitu menyejukkan. Menari dalam nada-nada jiwa yang merdu. Hingga aku sadari aku betul-betul terbuai di dalamnya.
Dan aku wanita. Rasa ini datang pada seorang wanita kecil seperti aku. Cinta ini bercerita banyak hal pada wanita kecil ini, menjumpainyanya dalam bentuk abstraksi yang tak pernah ia kenal sebelumnya, kemudian masuk ke dalam hamparan sanubarinya yang dahulu hanyalah sebuah ruang kosong.
Dan ketika aku jatuh cinta, cukup bagiku rasa ini. Belum membutuhkan sesuatu yang lebih kecuali jika sudah tiba saatnya nanti, aku dan rasa ini bersatu dalam suatu ikatan yang diberkahi. Maka, ketika orang bertanya pada wanita ini, dengan siapa ia sedang jatuh cinta... Cukup aku dan rasa ini yang tahu di bawah semua pengaturannya. Bukankah semua akan indah pada waktunya?
Karena aku tidak menuntut terhadap cinta kecuali suatu ketulusan sebagaimana fitrahnya berasal. Biarlah Tuhanku yang mengaturnya. Dialah Yang Maha Tahu dan Mengetahui. Jika aku jatuh cinta, aku serahkan semuanya kepadaNya, sebagai bukti bahwa aku mencintainya dengan sungguh-sungguh.
Mungkin dua, tiga, atau empat tahun lagi... Aku berharap begitu:) Entah... Allah yang mengatur cinta, mengatur hidup, dan mengatur semua rencana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar