Tampilkan postingan dengan label my soul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my soul. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Januari 2012

#tentang cinta

"Aku tersesat menuju hatimu. Beri aku, jalan yang indah. Izinkanku lepas penatku, tuk sejenak lelah di bahumu... Tentang cinta, yang datang perlahan. Membuatku takut kehilangan. Kutitipkan cahaya terang, tak padam didera noda dan masa.... (tentang rasa, astrid)"

Aku bersyukur karena aku merasakan jatuh cinta. Kemarin, hari ini, dan mungkin esok hari. Tetapi ini sungguh berbeda. Aku bahagia bukan karena keindahan rasa yang timbul dari suatu gejolak, bukan... Bukan seperti mereka yang sedang berpacaran, jalan berdua, atau apapun itu...bukan,

Aku jatuh cinta kepada seseorang. Seperti ayahku-ayahmu pada ibuku-ibumu dan sebaliknya, Fatimah Azzahra pada Ali bin Abi Thalib, atau seperti Habibie dan Ainun. Aku tertawan oleh suatu sistem perasaan manusiawi yang secara tiba-tiba menyelubungi relung-relung hatiku. Aku tak mampu menolak perasaan ini. Bukankah cinta itu anugerah dari ilahi?

Aku jatuh cinta dan rasa itu bersemi kian lama di jiwaku. Membuatku tersenyum dalam embun-embun yang begitu menyejukkan. Menari dalam nada-nada jiwa yang merdu. Hingga aku sadari aku betul-betul terbuai di dalamnya.

Dan aku wanita. Rasa ini datang pada seorang wanita kecil seperti aku. Cinta ini bercerita banyak hal pada wanita kecil ini, menjumpainyanya dalam bentuk abstraksi yang tak pernah ia kenal sebelumnya, kemudian masuk ke dalam hamparan sanubarinya yang dahulu hanyalah sebuah ruang kosong.

Dan ketika aku jatuh cinta, cukup bagiku rasa ini. Belum membutuhkan sesuatu yang lebih kecuali jika sudah tiba saatnya nanti, aku dan rasa ini bersatu dalam suatu ikatan yang diberkahi. Maka, ketika orang bertanya pada wanita ini, dengan siapa ia sedang jatuh cinta... Cukup aku dan rasa ini yang tahu di bawah semua pengaturannya. Bukankah semua akan indah pada waktunya?

Karena aku tidak menuntut terhadap cinta kecuali suatu ketulusan sebagaimana fitrahnya berasal. Biarlah Tuhanku yang mengaturnya. Dialah Yang Maha Tahu dan Mengetahui. Jika aku jatuh cinta, aku serahkan semuanya kepadaNya, sebagai bukti bahwa aku mencintainya dengan sungguh-sungguh.

Mungkin dua, tiga, atau empat tahun lagi... Aku berharap begitu:) Entah... Allah yang mengatur cinta, mengatur hidup, dan mengatur semua rencana.

Jumat, 04 Maret 2011

kisahku sekarang ini

Lama tak bersua dengan blog yang saya buat. Ada beberapa hal yang membuat saya malas ngeblog akhir-akhir ini, pertama:tugas kuliah yang ampun bgt, kedua: tugas hidup lain, dan ketiga:kesalahan penulisan pada blog saya.

Anyway, tetep kan sekarang saya nulis lagi... Nah, ada beberapa hal penting yang berubah dalam hidup saya. Saya baru saja merubah orang dan saya juga baru saja dirubah hidupnya oleh seseorang.

Saya merasa ada beberapa hal yang membuat diri saya tidak nyaman. Teman. Ya, apalah itu, saya berusaha untuk selalu berteman dengan siapa saja. Tapi, ada suatu keadaan dimana khusunya wanita tidak nyaman berada dalam suatu komunitas yang baginya 'mengancam' atau 'tidak mengenakkan' sehingga apa yang ia lakukan selalu terasa ganjil dan salah.

Saya wanita yang cukup sensitif, saya akui. Nah, tapi kesensitivitasan itulah yang saya gunakan sebagai alat untuk memahami orang lain, tentang bagaimana saya harus memperlakukan orang lain dalam pergaulan, tentang bagaimana sifat welas asih yang harusnya tertanam pada diri masing-masing individu.

Akhir-akhir ini saya sangat getol dengan seseorang karena beberapa hal: tertawa.
Mungkin semua orang boleh tertawa, iya kan?
Atau Anda bercermin pada dalil warkop, "Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang?"
Salah besar bagi saya. Pertama, dalil warkop itu sesungguhnya bukan bsekedar dalil yang berarti Anda harus tertawa sebanyak-banyaknya. Tertawa pun dapat mematikan kepekaan kita terhadap hati, hati pun akan menjadi sangat keras. Dalil itu ditujukan untuk mengkritisi rezim orde baru sesungguhnya yang sangat otoriter, dimana semua hal dilarang dan dikecam.

Yang menjadi tinjauan saya adalah, apakah menertwakan seseorang yang sedang terjatuh atau sedang tidak melakukan apa-apa dengan sudut bibir kian meruncing itu benar adanya?
Apakah itu manusia sesama manusia?
Entahlah, hanya hati nuranimu yang mampu menjawabnya kawan...
Semoga hatimu diluruskkan olehNya