Tampilkan postingan dengan label Some Knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Some Knowledge. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2012

Internet: Definition, History, and Its Development

Internet stands for Interconnection Networking that means the several connection or computer used telephone, satellite, etc. internet allows computer user around the world to communicate and share information by sending each other emails, connectyour computer to another computer, send and receive files in the form of text, video, audia, social networking and others.
The history of internet development is began when the US Department of Defense Advanced Research Project Agency (ARPA) funded a research project a packet switching etwork known as ARPANET in 1960s. Then, in 1989, world wide web was combined. In early 1990s internet expanded quickly to universities, companies, governments, individuals, and families.
Nowaday, companies, individuals, and institution use internet in many ways. Companies use internet for electronic commerce (e-commerce) including advertising, trading, and providing customer service. Business and institutions use internet for voice and video conference that enable people to telecommute media and entertainment run online news and weather services over internet, distribute music and movie, broadcast audio and video including radio and television. Individuals also use the internet for communication, entertainment, finding information, and buying or selling goods and services.

Jumat, 04 November 2011

Pengecatan Bakteri


Bakteri terdapat secara luas di lingkungan alam yang berhubungan dengan hewan, tumbuh – tumbuhan, udara, air, dan tanah. Bakteri adalah mikroorganisme bersel tunggal yang tidak terlihat oleh mata, tetapi dengan bantuan mikroskop, mikroorganisme tersebut akan nampak. Panjang bakteri berkisar antara 0,5 – 10 mikron dan lebar 0,5 – 2,5 mikron tergantung dari jenisnya. Pada umumnya ada beberapa bentuk sel bakteri yang kita kenal :
1. Bentuk bulat atau cocci mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:
·       Micrococcus, berbentuk kecil dan tunggal.
·       Diplococcus, berbentuk double
·       Pneumococcus dan diplococcuss berbentuk lanset. Diplococcus yang berbentuk seperti biji kopi disebut gonococcus.
·       Tetracoccus, berbentuk seperti bujur sangkar.
·       Sarcina, berbentuk seperti kubus dan terdiri dari delapan sel yang tersusun rapi.
·       Staphylococcus, bila bentuknya tak teratur menyerupai buah anggur.
·       Streptococcus, berbentuk seperti rantai.
Contoh bakteri bentuk cocci adalah:
·       Clostridium sporogenes, 0,6-0,3 µm x 3,0-7,0 µm
·       Pseudomonas sp., 0,5-1,0 µm x 2,0-3,0 µm
·       Bacillus megaterium, 0,2-1.5 µm x 2,0-4,0 µm
·       Salmonella typhi, 0,6-0,7 µm x 2,0-3,0 µm
       2. Bentuk batang atau bacilli, mempunyai beberapa variasi seperti :
o    Cocobacillus, berbentuk sangat pendek sehingga mirip seperti cocci.
o    Fusiformis, kedua ujungnya meruncing
o    Streptobacillus, berbentuk filamen dengan sel-sel yang bergandengan.

3. Bentuk koma atau vibrios.

4. Bentuk spiral atau spirilli, banyak dijumpai sebagai individu sel yang memisah dan berbentuk lengkung, mempunyai variasi sebagai berikut:
·       Vibrio, berbentuk batang yang membengkok.
·       Spirilum, berbentuk spiral kasar, kaku, dan dapat bergerak dengan flagel.
·       Spirochaeta, berbentuk spiral halus, elastis, fleksibel, dapat bergerak dengan filamen aksial.
Contoh bakteri berbentuk spiral atau spirilli adalah :
a.    Borrelia, berbentuk gelombang
b.    Treponema, berbentuk spiral halus dan teratur
c.    Leptospira, berbentuk spiral dengan kaitan pada satu atau kedua ujungnya.
Teknik pewarnaan dilakukan untuk memudahkan mempelajari morfologi, struktur, dan sifat bakteri dalam identifikasinya. Ada beberapa teknik pewarnaan yang kita ketahui yaitu (1) Pewarnaan negatif, (2) pewarnaan sederhana, dan (3) pewarnaan gram.
Pada tahun 1884, seorang ilmuwan berkebangsaan Denmark, Hans Christian Gram (1853-1938) mengembangkan teknik pengecatan gram. Pengecatan gram atau pengecatan diferensial digunakan untuk mengklasifikasikan bakteri ke dalam dua kelompok yaitu gram positif dan gram negatif. Hal ini didasarkan pada warna yang dipertahankan oleh bakteri sesuai dengan sifat fisik dan kimia dinding sel mereka.
Bakteri Gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram-positif akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram-negatif tidak. Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram-negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka (filzahazny, 2008). Teknik pengecatan gram terdiri dari 4 tahapan yaitu :
1.    Primary stain atau warna dasar (kristal violet), berupa pewarna basa dan dapat mewarnai bakteri secara jelas. Semua bakteri dicat ungu sebagai warna dasar.
 2. Mordant (Gram's iodine). Iodin bergabung dengan kristal violet di dalam sel bakteri untuk membentuk kompleks violet – iodine.
 3.   Decolorizer atau bahan pencuci warna (etil-alkohol). Beberapa bakteri dibersihkan dari cat warna dasar (kristal iodin) sementara yang lain tidak terpengaruh.
4.    Secondary or counterstain atau warna pembanding (safranin). Warna dasar bakteri diberi pewarnaan ulang dengan warna merah.
Pengececatan gram memberikan hasil yang berbeda karena adanya perbedaan dinding sel pada tiap bakteri. Dinding sel bakteri gram positif memiliki banyak lapisan peptidoglikan, sementara kompleks kristal violet  - iodin lebih besar daripada kristal violet atau molekul iodine yang memasuki sel, akibatnya kompleks tidak dapat melewati dinding sel yang tebal sehingga bakteri tetap bewarna ungu/violet seperti warna crystal violet. Bakteri gram negatif memiliki lapisan peptidoglikan yang lebih tipis dan sebuah lapisan lipopolisakarida terluar. Alkohol melarutkan liposakarida sehingga kompleks kristal violet – iodin menghapus ulang warna sel. Ketika bakteri diwarnai akibatnya warna merah safranin akan memasuki dinding sel dan menyebabkan bakteri berwarna merah.
Pewarnaan sederhana paling umum digunakan. Pada pewarnaan ini hanya satu jenis cat pewarna yang digunakan untuk mewarnai mikroorganisme. Pewarna yang digunakan pada pewarnaan sederhana bersifat alkali dimana kromofornya bermuatan positif. Tujuan dari pewarnaan sederhana ini adalah untuk mengetahui tipe morfologi dan struktur bakteri.
Meode pewarnaan negatif bukan untuk mewarnai bakteri tetapi mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini mikroorganisme kelihatan transparan/tembus pandang. Teknik ini berguna untuk menentukan morfologi dan ukuran sel. Pada pewarnaan ini olesan tidak mengalami pemanasan atau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan kimia, maka terjadinya penyusutan dan salah satu bentuk agar kurang sehingga penentuan sel dapat diperoleh dengan lebih tepat. Metode ini menggunakan cat nigrosin atau tinta cina (Hadiotomo, 1990).
Struktur di dalam sel pada tempat-tempat yang khas dibentuk oleh spesies ini disebut endospora. Endospora dapat bertahan hidup dalam keadaan kekurangan nutrien, tahan terhadap panas, kekeringan, radiasi UV serta bahan-bahan kimia. Ketahanan tersebut disebabkan oleh adanya selubung spora yang tebal dan keras. Sifat-sifat ini menyebabkan dibutuhkannya perlakuan yang keras untuk mewarnainya. Hanya bila diperlukan panas yang cukup, pewarna yang sesuai dapat menembus endospora. Tetapi sekali pewarna memasuki endospora, sukar untuk dihilangkan. Ukuran dan letak endospora di dalam sel merupakan ciri-ciri yang digunakan untuk membedakan spesies-spesies bakteri yang membentuknya (Dwidjoseputro, 1989).

Diedit dari berbagai sumber

Daftar Pustaka:
Buckle, K. A., etc.. Ilmu Pangan (terj. Hari Purnomo). 2009. Jakarta: UI Press.
Ferdinand, Fiktor dan Moekti Ariwibowo. 2008. Praktis Belajar Biologi. Jakarta: PT Grafindo Media Pratama.         
Filzahazny. Pengantar tentang Bakteri dalam http://filzahazny.wordpress.com/2008/02/16/pengantar-tentang-bakteri/ (diakses pada 4 Maret 2010 pukul 13.17 wib)
Hadioetomo, R. S.. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: PT Gramedia Utama.
James, Joyce. Principles of Science for Nurses (terj. oleh Indah R.W.) . 2002. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Koch, Arthur L.. The Bacteria: Their Origin, Structure, Function, and Antibiosis. 2006. Netherland: Springer.
Prahardika, Indra. “Mikrobiologi Dasar” dalam http://ekmon-saurus.blogspot.com/2008/11/bab-5-morfologi-mikroba.html (diakses pada 1 Maret 2010 pukul 22.22 wib)
WHO. Manual Basic of Basic Techniques for A Health Laboratory. 2003. Geneva: WHO.

Selasa, 27 September 2011

Dampak Gempa Bumi terhadap Kehamilan


Hasil penelitian Universitas California, Amerika Serikat yang dipresentasikan pada pertemuan American Psychological Society di Miami, menyimpulkan bahwa stres akibat gempa bumi menyebabkan kelahiran prematur pada kehamilan muda. Penelitian dilakukan pada wanita hamil korban gempa dengan skala 6,7 SR yang terjadi di Northridge, California, pada Januari 1994. Tercatat lebih dari 50 orang meninggal, ribuan penduduk mengalami luka-luka, dan bencana itu menyebabkan kerugian materi hingga US$ 40 miliar. Sebanyak 40 wanita hamil diteliti. Setelah mengalami dampak gempa, usia kelahiran bayinya kemudian didata. Ternyata bayi-bayi mereka lahir lebih cepat dari kelahiran normal pada usia kandungan 40 minggu. Penelitian ini menunjukkan bahwa gempa bumi mempercepat jam biologis plasenta atau ari-ari. Percepatan itu tak lain akibat ibu hamil mengalami stres ketika terjadi gempa. "Efeknya mempengaruhi masa kehamilan," kata Laura Glynn, salah satu penggagas penelitian. Semakin muda usia kehamilan saat terjadi gempa, makin bergegas pula bayi itu lahir. Wanita dalam tiga bulan pertama kehamilan tercatat menunjukkan gejala perubahan ekstrem. Sedangkan pada wanita dengan kehamilan di bulan-bulan terakhir, perubahannya agak moderat. Penelitian itu juga menghasilkan beberapa hal penting tentang fungsi plasenta. Menurut Glynn, plasenta bukan hanya menjadi filter yang bersifat pasif antara ibu dan jabang bayi. Ternyata, plasenta juga berfungsi sebagai organ endokrin  yang bereaksi dan mempengaruhi produksi hormon serta peptida (rantai protein yang berpengaruh pada pertumbuhan) selama kehamilan. Hormon dan protein yang dihasilkan akan dibawa melalui sirkulasi aliran darah antara sang ibu dan orok. Akibatnya akan berpengaruh dalam mekanisme psikologis yang ikut menentukan jangka waktu kehamilan. Tentu saja hasil penelitian itu bisa pula berlaku bagi faktor-faktor selain gempa yang bisa menyebabkan ibu hamil mengalami stres, entah stres akibat problem keluarga ataupun pekerjaan. Sementara itu, hasil penelitian terdahulu yang menyatakan kelahiran prematur bisa pula mengakibatkan cacat pada bayi tentu juga tetap berlaku. Pada penelitian terdahulu disebutkan pula bahwa stres bisa menimbulkan kerusakan pada pandangan, pendengaran, dan menyebabkan melemahnya intelektualitas. Selain itu, komplikasi pada pernapasan, sistem pencernaan makanan, dan sistem ginjal juga punya risiko yang tak kalah tinggi. Stres juga meningkatkan kemungkinan keguguran.

Daftar Pustaka:
Agung Rulianto, Bayi Prematur Akibat Gempa. dalam Harian Bengkulu. 12 Juli 2000.

Minggu, 18 September 2011

ISPA (Insfeksi Saluran Pernafasan Akut)

ISPA atau Insfeksi Saluran Pernafasan Akut mengandung tiga unsur yaitu insfeksi, saluran pernafasan, dan akut. Masing-masing memiliki definisi sebagai berikut:
a. Infeksi, yaitu masuknya kuman ke dalam tubuh manusia, berkembang biak, dan menimbulkan penyakit.
     b.Saluran pernafasan, yaitu organ mulai dari hidung hingga alveoli termasuk adneksanya yang meliputi sinus, rongga telinga, dan pleura.
     c. Akut menunjukkan adalah infeksi yang berlangsung selama 14 hari. Meskipun pada beberapa kejadian, infeksi dapat terjadi lebih dari 14 hari.

Etiologi
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus Streptokokus, Stafilokokus, Pnemokokus, Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus. ISPA yang diebabkan oleh virus kebanyakan terjadi pada musim dingin.

Patofisiologi
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan Chernick, 1983).
Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering (Jeliffe, 1974). Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang melebihi noramal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk (Kending and Chernick, 1983). Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah batuk.
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti streptococcus pneumonia, haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut (Kending dan Chernick, 1983). Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif. Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi. Suatu laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak (Tyrell, 1980).
Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempat-tempat yang lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan juga bisa menyebar ke saluran nafas bawah (Tyrell, 1980). Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa menyerang saluran nafas bawah, sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernafasan atas, sesudah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Shann, 1985).
Penanganan penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan aspek imunologis saluran nafas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran nafas yang sebagian besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan sistem imun sistemik pada umumnya. Sistem imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang tersebar, merupakan ciri khas system imun mukosa. Ciri khas berikutnya adalah bahwa IgA memegang peranan pada saluran nafas atas sedangkan IgG pada saluran nafas bawah. Diketahui pula bahwa sekretori IgA (sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan integritas mukosa saluran nafas (Siregar, 1994).

Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 4 tahap yaitu :
1.   Tahap prepatogenesis : penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa
2.   Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3.   Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan batuk. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,sembuh dengan atelektasis, menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia.


Dapus
Hidayat. 2009. “Askep Ispa Pada Anak” dalam http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/24/askep-ispa-pada-anak/ (25 April 2011)
Nurijal. Tanpa tahun. “ISPA” dalam http://nurrijal-ispabio.blogspot.com/ (25 April 2011)
Suriadi,Yuliani R. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : CV Sagung Seto.

Minggu, 06 Maret 2011

Fortifikasi Pangan


Minyak Goreng merupakan salah satu jenis pangan yang difortifikasi


Fortifikasi pangan adalah penambahan satu atan lebih zat gizi (nutrien) ke pangan (Siagian, 2003). Sebenernya, fortifikasi makanan mengacu kepada beberapa konsep yang luas dan mungkin dilakukan untuk beberapa alasan. Pertama adalah untuk mengembalikan zat gizi yang hilang selama pengolahan makanan, proses ini disebut sebagai enrichment. Dalam hal ini, zat gizi ditambahkan ke dalam makanan dengan jumlah yang hampir mendekati jumlah zat awal sebelum pemrosesan makanan. Alasan kedua adalah untuk  menambah zat gizi yang  tidak terdapat dalam makanan secara alami, proses ini disebut sebagai fortifikasi.  Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat gizi yang ditambahkan untuk meningkatkan status gizi populasi. Peran pokok dari fortifikasi pangan adalah pencegahan defisiensi sehingga menghindari terjadinya gangguan yang membawa kepada penderitaan manusia dan kerugian sosio-ekonomi. Namun demikian, fortifikasi pangan juga digunakan untuk menghapus dan mengendalikan defisiensi zat gizi dan gangguan yang diakibatkannya. Istilah double fortification dan multiple fortification digunakan apabila 2 atau lebih zat gizi, masing-masing ditambahkan kepada pangan atan campuran pangan. Pangan pembawa zat gizi yang ditambahkan disebut Vehicle, sementara zat gizi yang ditambahkan disebut Fortificant. Fortifikasi dapat diterapkan untuk tujuan-tujuan berikut:
      Untuk memperbaiki kekurangan zat-zat dari pangan (untuk memperbaiki defisiensi akan zat gizi yang ditambahkan).
•   Untuk mengembalikan zat-zat yang awalnya terdapat dalam jumlah yang siquifikan dalam pangan akan tetapi mengalami kehilangan selama pengolahan.
•   Untuk meningkatkan kualitas gizi dari produk pangan olahan (pabrik) yang digunakan sebagai sumber pangan bergizi misalnya susu formula bayi.
•   Untuk menjamin ekuivalensi gizi dari produk pangan olahan yang menggantikan pangan lain, misalnya margarin yang difortifikasi sebagai pengganti mentega .
Menurut FAO pada Technical Consultation on Food Fortification: Technology and Quality Control  di Roma pada tahun 1995, makanan yang difortifikasi idealnya harus:
·         Umumnya dikonsumsi oleh populasi sasaran.
·         Memiliki pola konsumsi yang konstan oleh msyarakat dan berisiko rendah bila dikonsumsi dalam jumlah berlebih.
·         Memiliki stabilitas ynag baik dalam penyimpanan.
·         Relatif rendah dalam baiaya.
·         Diproses terpusat dengan stratifikasi minimal.
·         Tidak terjadi interaksi anatara fortifikan dengan vehicle.
·         Ketersediannya tidak berhubungan dengan status sosio-ekonomi.
·         Dikaitkan dengan asupan energi.


Daftar Pustaka

Anonim. Tanpa Tahun. ”Food Fortification: Need for A More Proactive Approach” dalam http://www.mostproject.org/PDF/4pagefortcolor.pdf diunduh pada 3 Maret 2011 pukul 16.13wib.
Gregory D. Orriss. Tanpa tahun. Food fortification: Safety and legislationhttp://unu.edu/unupress/food/V192e/ch04.htm. diunduh pada 3 Maret 2011 pukul 16.00wib.
Mejia, Luis A.. Tanpa Tahun. “Fortification of foods: Historical Development and Current Practices” dalam http://unu.edu/unupress/food/8F154e/8F154E03.htm diunduh pada 5 Maret 2011 pukul 11.28wib.
Siagian, Albiner. 2003. “Pendekatan Fortifikasi Pangan untuk Mengatasi Masalah Kekurangan Zat Gizi Mikro”.  http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3762/1/fkm-albiner5.pdf. diunduh pada 2 Maret 2011 pukul 20.55wib.


Jumat, 04 Maret 2011

Pengecatan Bakteri


Bakteri terdapat secara luas di lingkungan alam yang berhubungan dengan hewan, tumbuh – tumbuhan, udara, air, dan tanah. Bakteri adalah mikroorganisme bersel tunggal yang tidak terlihat oleh mata, tetapi dengan bantuan mikroskop, mikroorganisme tersebut akan nampak. Panjang bakteri berkisar antara 0,5 – 10 mikron dan lebar 0,5 – 2,5 mikron tergantung dari jenisnya. Pada umumnya ada beberapa bentuk sel bakteri yang kita kenal :
1. Bentuk bulat atau cocci mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:
·       Micrococcus, berbentuk kecil dan tunggal.
·       Diplococcus, berbentuk double
·       Pneumococcus dan diplococcuss berbentuk lanset. Diplococcus yang berbentuk seperti biji kopi disebut gonococcus.
·       Tetracoccus, berbentuk seperti bujur sangkar.
·       Sarcina, berbentuk seperti kubus dan terdiri dari delapan sel yang tersusun rapi.
·       Staphylococcus, bila bentuknya tak teratur menyerupai buah anggur.
·       Streptococcus, berbentuk seperti rantai.
Contoh bakteri bentuk cocci adalah:
·       Clostridium sporogenes, 0,6-0,3 µm x 3,0-7,0 µm
·       Pseudomonas sp., 0,5-1,0 µm x 2,0-3,0 µm
·       Bacillus megaterium, 0,2-1.5 µm x 2,0-4,0 µm
·       Salmonella typhi, 0,6-0,7 µm x 2,0-3,0 µm
       2. Bentuk batang atau bacilli, mempunyai beberapa variasi seperti :
o    Cocobacillus, berbentuk sangat pendek sehingga mirip seperti cocci.
o    Fusiformis, kedua ujungnya meruncing
o    Streptobacillus, berbentuk filamen dengan sel-sel yang bergandengan
3. Bentuk koma atau vibrios.
4. Bentuk spiral atau spirilli, banyak dijumpai sebagai individu sel yang memisah dan berbentuk lengkung, mempunyai variasi sebagai berikut:
·       Vibrio, berbentuk batang yang membengkok.
·       Spirilum, berbentuk spiral kasar, kaku, dan dapat bergerak dengan flagel.
·       Spirochaeta, berbentuk spiral halus, elastis, fleksibel, dapat bergerak dengan filamen aksial.
Contoh bakteri berbentuk spiral atau spirilli adalah :
a.    Borrelia, berbentuk gelombang
b.    Treponema, berbentuk spiral halus dan teratur
c.    Leptospira, berbentuk spiral dengan kaitan pada satu atau kedua ujungnya.
Teknik pewarnaan dilakukan untuk memudahkan mempelajari morfologi, struktur, dan sifat bakteri dalam identifikasinya. Ada beberapa teknik pewarnaan yang kita ketahui yaitu (1) Pewarnaan negatif, (2) pewarnaan sederhana, dan (3) pewarnaan gram.
Pada tahun 1884, seorang ilmuwan berkebangsaan Denmark, Hans Christian Gram (1853-1938) mengembangkan teknik pengecatan gram. Pengecatan gram atau pengecatan diferensial digunakan untuk mengklasifikasikan bakteri ke dalam dua kelompok yaitu gram positif dan gram negatif. Hal ini didasarkan pada warna yang dipertahankan oleh bakteri sesuai dengan sifat fisik dan kimia dinding sel mereka.
Bakteri Gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram-positif akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram-negatif tidak. Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram-negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka (filzahazny, 2008). Teknik pengecatan gram terdiri dari 4 tahapan yaitu :
1.    Primary stain atau warna dasar (kristal violet), berupa pewarna basa dan dapat mewarnai bakteri secara jelas. Semua bakteri dicat ungu sebagai warna dasar.
 2. Mordant (Gram's iodine). Iodin bergabung dengan kristal violet di dalam sel bakteri untuk membentuk kompleks violet – iodine.
 3.   Decolorizer atau bahan pencuci warna (etil-alkohol). Beberapa bakteri dibersihkan dari cat warna dasar (kristal iodin) sementara yang lain tidak terpengaruh.
4.    Secondary or counterstain atau warna pembanding (safranin). Warna dasar bakteri diberi pewarnaan ulang dengan warna merah.
Pengececatan gram memberikan hasil yang berbeda karena adanya perbedaan dinding sel pada tiap bakteri. Dinding sel bakteri gram positif memiliki banyak lapisan peptidoglikan, sementara kompleks kristal violet  - iodin lebih besar daripada kristal violet atau molekul iodine yang memasuki sel, akibatnya kompleks tidak dapat melewati dinding sel yang tebal sehingga bakteri tetap bewarna ungu/violet seperti warna crystal violet. Bakteri gram negatif memiliki lapisan peptidoglikan yang lebih tipis dan sebuah lapisan lipopolisakarida terluar. Alkohol melarutkan liposakarida sehingga kompleks kristal violet – iodin menghapus ulang warna sel. Ketika bakteri diwarnai akibatnya warna merah safranin akan memasuki dinding sel dan menyebabkan bakteri berwarna merah.
Pewarnaan sederhana paling umum digunakan. Pada pewarnaan ini hanya satu jenis cat pewarna yang digunakan untuk mewarnai mikroorganisme. Pewarna yang digunakan pada pewarnaan sederhana bersifat alkali dimana kromofornya bermuatan positif. Tujuan dari pewarnaan sederhana ini adalah untuk mengetahui tipe morfologi dan struktur bakteri.
Meode pewarnaan negatif bukan untuk mewarnai bakteri tetapi mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini mikroorganisme kelihatan transparan/tembus pandang. Teknik ini berguna untuk menentukan morfologi dan ukuran sel. Pada pewarnaan ini olesan tidak mengalami pemanasan atau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan kimia, maka terjadinya penyusutan dan salah satu bentuk agar kurang sehingga penentuan sel dapat diperoleh dengan lebih tepat. Metode ini menggunakan cat nigrosin atau tinta cina (Hadiotomo, 1990).
Struktur di dalam sel pada tempat-tempat yang khas dibentuk oleh spesies ini disebut endospora. Endospora dapat bertahan hidup dalam keadaan kekurangan nutrien, tahan terhadap panas, kekeringan, radiasi UV serta bahan-bahan kimia. Ketahanan tersebut disebabkan oleh adanya selubung spora yang tebal dan keras. Sifat-sifat ini menyebabkan dibutuhkannya perlakuan yang keras untuk mewarnainya. Hanya bila diperlukan panas yang cukup, pewarna yang sesuai dapat menembus endospora. Tetapi sekali pewarna memasuki endospora, sukar untuk dihilangkan. Ukuran dan letak endospora di dalam sel merupakan ciri-ciri yang digunakan untuk membedakan spesies-spesies bakteri yang membentuknya (Dwidjoseputro, 1989).

Diedit dari berbagai sumber

Daftar Pustaka:
Buckle, K. A., etc.. Ilmu Pangan (terj. Hari Purnomo). 2009. Jakarta: UI Press.
Ferdinand, Fiktor dan Moekti Ariwibowo. 2008. Praktis Belajar Biologi. Jakarta: PT Grafindo Media Pratama.         
Filzahazny. Pengantar tentang Bakteri dalam http://filzahazny.wordpress.com/2008/02/16/pengantar-tentang-bakteri/ (diakses pada 4 Maret 2010 pukul 13.17 wib)
Hadioetomo, R. S.. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: PT Gramedia Utama.
James, Joyce. Principles of Science for Nurses (terj. oleh Indah R.W.) . 2002. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Koch, Arthur L.. The Bacteria: Their Origin, Structure, Function, and Antibiosis. 2006. Netherland: Springer.
Prahardika, Indra. “Mikrobiologi Dasar” dalam http://ekmon-saurus.blogspot.com/2008/11/bab-5-morfologi-mikroba.html (diakses pada 1 Maret 2010 pukul 22.22 wib)
WHO. Manual Basic of Basic Techniques for A Health Laboratory. 2003. Geneva: WHO.