Bernafaslah sejenak, sambil menghapus air matamu, meluruskan niatmu, memahami hikmah kejadian lalu, mngukir semangat baru. Berhentilah sejenak. Bernafaslah sejenak...Entah mengapa ada beberapa hal yang meneyelubungi hati. Membuat dada agak sesak. Mangurai air mata kekecewaan yang harusnya sudah berhenti sejak beberapa minggu lalu. Mungkin saya butuh curhat. Butuh cerita. Saya butuh penghibur. Dalam setiap doa yang saya panjatkan, saya selalu berdoa untuk dapat mencapai beberapa pencapaian. Namun pada akhirnya, Allah menentukan. Lalu, hati saya masih takjub. Masih sedih. Masih butuh beberapa kata dari orang lain untuk membantu menguatkan saya, meski hanya sekedar berujar bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak usah cemas. Tidak usah khawatir. Kamu sudah melakukan hal semaksimal mungkin. Kamu hanya perlu menunggu waktu hingga hal yang lebih indah akan terjadi. Tapi, saya tahu semua orang sedang sibuk. Saya juga. Saya harus terus berjalan meskipun sandal untuk pijakan kaki saya sedang rusak dan butuh diganti. Tapi orang lain tidak peduli. Kebanyakan dari mereka egois. Saya harus tetap berjalan...agar semuanya tetap baik-baik sajja-meskipun hati saya tidak. Saya harus tersenyum di depan mereka, berisyarat bahwa tidak ada yang terjadi. Semuanya baik-baik saja. Ada masalah apa? Saya saja yang meng-handlenya. Saya saja yang mengerjakannya. Saya saja... Jangan Anda mengeluh, sini sini biar saya saja yang mengerjakannya...
Lalu hari ini datang. Membawa saya pada satu titik dimana saya kembali harus menambal sandal untuk berlari. Saya pun malu. Malu karena sangat manja. Mudah mengeluh. Tapi sesempurna apa saya, saya juga ingin untuk dimengerti. Saya ingin orang-orang yang berhubungan dengan saya menngambil inisiatif sendiri dan sekedar bilang, Lini, jangan begitu....sini, mari kita berjalan bersama. Saya menginginkan itu, tapi tidak ada. Semua sibuk. Semua punya urusan. Saya juga. lalu saya mengorbankan mimpi pribadi saya. Ah, semoga Allah yang tahu yang membalasnya.
Saya bukan tipe orang yang tegaan. Tapi saya juga bukan seorang wanita robot. Tak punya keringat. Tak punya keluh. Tak punya urusan lain. Saya mungkin tidak tegas. tapi bukan berarti itu saya tidak bisa berbuat tegas. Saya bisa. Tapi saya lebih memilih keindahan persahabatan. Saya lebih suka di belakang layar. Saya lebih memilih untuk terasing daipada harus menuruti idealisme orang lain yang tidak senada dengan saya. Saya lebih memilih untuk diam daripada bersuara dalam keluhan dan mencaci. Saya lebih baik terdampar....
Tidak tahu bagaimana semua ini mengepul bagaikan asap dalam otak dan jiwa saya....
Semuanya akan baik2 saja, bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar