Berdoalah padaKu, niscaya akan Kukabulkan (Al Mu'min 60)
Hi Great Himatitan 2012 adalah sebuah rangkaian event yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa TIP (Teknologi Industri Pertanian) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. Event ini dimeriahkan dengan LKTI tingkat nasional untuk kategori mahasiswa dan SMA/sederajat. Pada akhir rangkaian, acara ini ditutup dengan bazar, pameran produk LKTI, dan Seminar nasional bertemakan Green Marketing.
Dalam LKTI ini lolos 7 finalis Perguruan Tinggi dari 141 peserta yang mendaftar dan mengirimkan abstrak. Ketujuh PT itu di antaranya, (1) Universitas Indonesia, (2) Universitas Brawijaya, (3) ITS, (4) IPB, (5) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, (6) IKIP Mataram, dan (7) Universitas Negeri Semarang.
Setelah mengalami ketatnya presentasi di hadapan dewan juri dan penilaian KTI, akhirnya terpilihlah 3 juara. ITS berhasil menduduki juara 2, Universitas Negeri Semarang pada juara 3, dan juara 1 berhasil dibawa pulang oleh UI dengan judul penelitian Bukati : Teh Celup Anti Diabetes Sebagai Alternatif Pendayagunaan Limbah Minuman di gang Senggol, Depok.
We walk on, pass by, and face forward. Everywhere you go your past is with you as always. Learn the past and face the future...
Selasa, 10 April 2012
Senin, 26 Maret 2012
Strange in Familiar: Serua Part Special
Serua.
Masih teringat ketika semester lima lalu harus melakukan assesment di sebuah kelurahan asing yang bernama Serua. Tak ada yang tahu sebelumnya dimana itu. Dari peta yang ditampilkan Kak Ana-asdos Gizi kami yang paling cantik itu-letaknya jauh sekali dari markas kami (UI). Awal mula, terbelesit rasa 'berat' karena harus mengasesmen 70 bayi disana. Bagaimana tidak? Kampus sebesar UI saja nyatanya hanya mampu menyediaka satu alat yang harus digunakan dalam satu kelompok. Dalam sekelompok ada sekitar 7 sampai 8 orang. Agak mengecewakan memang mengingat yang harus diassesmen itu ada banyak. Assesment gizi sendiri meliputi pengukuran atropometri (ukuran tubuh) dan food recall dengan metode wawancara. Antropometri merupakan metode yang rumit karena dibutuhkan timbangan berat badan (bb) jenis seca, microtoise untuk mengukur tinggi tubuh, lengthboard untuk mengukur panjang tubuh (biasanya pada balita yang masih belum mampu berdiri) dan pita LILA untuk mengetahui risiko kurang energi kronis (kek) ataupun kurang energi protein (kep).
![]() |
| di rumah Bu RT, adik kecil yang cantik |
Pada semester kemarin, semuanya sudah dilalui. Keringat-keringat deras bercucuran dari anak-anak gizi angkatan 2009 dan akan saya kenang selalu sebagai pengalaman 'gokil' mahasiswa kampus perjuangan ini. Sekarang giliran magang masyarakat.
Satu hal yang membuat saya agak heran adalah bahwasanya kawasan ini adalah kelurahan yang semikota. Menurut data demografi yang kami dapatkan dari Pak Juanda (kepala lurah), terdapat sekitar tujuh perumahan. Jalannya pun beraspal dan terdapat sekitar tiga atau empat swalayan mini di dalamnya.
Serua juga terletak di Depok pinggiran. Jauh sekali dari Margonda (kampus UI Depok). Bahkan saya dkk sempat tercengang ketika kami harus membantu sebuah posyandu di daerah Serua, terdapat tulisan alamat Ciputat. Benar ternyata Serua berbatasan dengan Ciputat, Tangerang. Serua pun lebih dekat dengan terminal Lebak Bulus daripada terminal ITC Depok, lebih akrab dengan kata UIN daripada UI.
Lalu, insyaAllah saya akan magang di sini selama satu bulan. Bismillahirrahmanirrahiim
Minggu, 29 Januari 2012
Internet: Definition, History, and Its Development
Internet stands for Interconnection Networking that
means the several connection or computer used telephone, satellite, etc.
internet allows computer user around the world to communicate and share
information by sending each other emails, connectyour computer to another
computer, send and receive files in the form of text, video, audia, social
networking and others.
The history of internet development is began when the
US Department of Defense Advanced Research Project Agency (ARPA) funded a
research project a packet switching etwork known as ARPANET in 1960s. Then, in
1989, world wide web was combined. In early 1990s internet expanded quickly to
universities, companies, governments, individuals, and families.
Nowaday, companies, individuals, and institution use
internet in many ways. Companies use internet for electronic commerce
(e-commerce) including advertising, trading, and providing customer service.
Business and institutions use internet for voice and video conference that
enable people to telecommute media and entertainment run online news and
weather services over internet, distribute music and movie, broadcast audio and
video including radio and television. Individuals also use the internet for
communication, entertainment, finding information, and buying or selling goods
and services.
not for my future husband
- smoking, drinking, and drugs
- long hair, tattoo, ear ring
- not keeping hijab to whom woman not including his mahram
Cerita Pulang Kampuong
Assalammualaykum my bloggers, fans, and secret admirer *berasa org terkenal dan minta ditimpuk*
Haha, FYI, pas saya nulis postingan ini nih, saya lagi ada di rumah *gak nyantai bro*. Pas seminggu ada di rumah bareng adek2 saya, ibu, ayah, dan nenek:) Keinget beberapa kejadian lucu pas pulang kampung yang di sisi lain memberikan efek 'sentilan' atau makna yang luar biasa dalamnya.... Mau denger??? Let's read it!
1. Pulang kampung di tahun 2009 sekitar pagi hari pukul 8an, saya duduk di dalam sebuah angkot yang akan membawa saya ke Benjeng, kecamatan kecil yang sudah lama saya tinggali. Angkotnya sepi dan saya duduk sendirian di belakang karea saya gasuka duduk di depan, hehe. Tentunya saya bawa koper dan pak sopirnya hafal banget kalo jam segitu itu jadwalnya kedatangan kereta api dari Jakarta ke Surabaya. Untuk mencairkan suasana sambil nunggu penumpang lainnya pak sopirnya nanya di Jakarta saya kerja apa? Kuliah Pak, jawab saya. "Oh kuliah di Jakarta? Jauh amat mbak. Kedokteran ya? Kuliah di mana?". Sebenernya juga bukan di Jakarta sih, tapi yaudahlah mau nerangin juga lagi capek bingung mau neranginnya kayak gimana. "Bukan Pak, Gizi di UI". Bapaknya balas gini, "Jauh amat sih mbak. Di unair kan ada gizi. UI itu swasta ya mbak? Biaya hidupnya pasti mahal ya mbak sampeyan..." Saya: tersenyum.
2. Pas saya pulang masih zaman2 maba (emang paling sering 'nekat' pulang dalam kondisi kuliah sepadat apapun haha) saya diem di rumah. Eh nenek yang sering transaksi jual beli *asik bahasanya* di warung buat masak cerita. "Lin, tadi kamu ditanyain mbak X, si Y, mas Z, mbah T lho. 'Oalah...mbak Lini pulang to mbah?'. 'Mbak Lini kerjo nopo to mbah (mbak Lini kerja apa sih mbah?) Di Jakarta banyak artisnya kan mbah, pasti mbak Lini sering ketemu ya mbah?'" Pas saya nanya simbah jawab apa, beliau bilangya kalo saya ga kuliah disana, saya kuliah alias sekolah. Saya: kembali tersenyum.
3. Ini yang terbaru. Minggu kemarin saya pulang dan naik kereta Gumarang. Ntah kenapa saya capek banget dan ngerasa agak wasting time kalo harus turun ke Surabaya dan pergi ke Gresik. Naik angkotnya itu lho, lama banget, bisa2 nyampe rumah jam 11an...Nah, akhirnya saya disuruh ayah turu di stasiun Lamongan an yap saya nurut. Tapi pertama kali pas menginjakkan kaki ke stasiun itu saya ngelihat banyak orang ngelihat saya ditambah lagi muka bingung saya yang gatahu ini stasiun ada di Lamongan sebelah mana dan saya harus naik apa supaya bisa ke Benjeng??? Oke, Lini stay calm, cooling down, and go ahead. Is there anything wrong? My luggage? My clothes?? Bismillah, innallaha ma'ana innallaha ma'ana..Lini tidak sendirian disini, jalan tersu Lin jalan terus. Eh, di deket pintu keluar saya banyak dihadang tukang becak, tukang ojek, tukang mobil pribadi, aduh cemas banget karena jadi tambah bingung. Dengan koper saya yg berisi sebuah laptop saya terus berjalan sampe ke jalan raya dan selalu mengulurkan tangan plus muka senyum bilang "makasih pak,,,mboten (engga)" Mau kemana neng...mau kemana...naik ojek neng... Dah tambah bingung lagi. Nyari polisi atao petugas ato siapa kek yang berseragam gitu gada T.T Dan apa yang saya lakukan? Main nyeberang ke jalan dan ngelambaiin tangan ke angkot yang gada tulisannya mau kemana. Eh malu bgt ketauan salah karena angkot yg seharusnya saya naiki itu berlaian arah dengan yang saya tanyain. Haha. Nyebrag lagi deh bawa-bawa koper dan saya kan paling gabisa nyeberang plus itu jalan raya dilewati bus-bus antarpropinsi dan truk truk gede pengangkut semen. Nekat aja berbekal pengalaman menyeberang di jalan raya margonda *wuohoo* Eh tapi karena begitu, saya jadi banyak dimarahin bapak2, katanya saya serem banget nyeberangnya...
Hikmah?
Hehe. Banyak bgt. Yg pertama, pulang kampung itu sesuatu banget apalagi kalo bawa koper,siap2 diliatin banyak orang, dikirain kabur dari rumah, dan waswas karena isinya laptop. Kedua, UI itu masih awam buat bapak2 sopir *ehem jadi inget spanduk di jalanan pocin*. Kontribusi ke arah masyarakat bawah masih kurang dirasakan. Ketiga, wanita seusia saya lebih wellknown dengan aktivitas 'bekerja' daripada ber'kuliah'. Pendidikan untuk masyarakat desa masih menjadi sesuatu yang eksklusif karena memang harga pendidikan di Indonesia masih mahal. Ada juga persepsi yang masih hidup di masyarakat bahwa kita bersekolah untuk mencari pekerjaan. Terbukti dengan banyaknya teman2 saya yang di desa memilih untuk sekolah di STM, medapatkan ijazahnya, lalu bekerja dengan tiket masuk ijazah tersebut. Gada yg salah dengan STM. Gada yg salah juga dengan persepsi itu. Sama halnya dengan persepsi, besok makan apa dengan besok makan dimana? Beda kan? Persepsi tersebut akan lebih baik lagi kalau menjadikan pendidikan sebagai 'kebutuhan' bukan hanya 'tiket masuk kerja'. Nah, tetapi tak dapat dipungkiri, kesejahteraan masyarakatlah yang banyak mempengaruhi persepsi tersebut. Keempat, selentingan UI itu jauh kok mau sih mbak kuliah disana agaknya menimbulkan kembali kegalauan saya. Benarkah pilihan saya untuk meneruskan studi di UI yg berarti akan sangat memberatkan ortu saya dalam hal pembiayaan. Ya, anggap saja ini jalan saya dan jalan orangtua saya. Tidak pernah ada kebetulan di dunia ini bukan? Intinya saya harus bekerja keras dan mungkin harus melebihi orang2 lain agar tdk menyiakan kesempatan ini...
Banyak hal ya di sekitar kita yang kalau kita telaah, mampu menjadikan kita lebih dewasa dan bijaksana untuk menatap masa depan kita. Take it or leave it. Maybe your life will not being easier, but from it we are getting stronger than ever:)
Semangat!
Haha, FYI, pas saya nulis postingan ini nih, saya lagi ada di rumah *gak nyantai bro*. Pas seminggu ada di rumah bareng adek2 saya, ibu, ayah, dan nenek:) Keinget beberapa kejadian lucu pas pulang kampung yang di sisi lain memberikan efek 'sentilan' atau makna yang luar biasa dalamnya.... Mau denger??? Let's read it!
1. Pulang kampung di tahun 2009 sekitar pagi hari pukul 8an, saya duduk di dalam sebuah angkot yang akan membawa saya ke Benjeng, kecamatan kecil yang sudah lama saya tinggali. Angkotnya sepi dan saya duduk sendirian di belakang karea saya gasuka duduk di depan, hehe. Tentunya saya bawa koper dan pak sopirnya hafal banget kalo jam segitu itu jadwalnya kedatangan kereta api dari Jakarta ke Surabaya. Untuk mencairkan suasana sambil nunggu penumpang lainnya pak sopirnya nanya di Jakarta saya kerja apa? Kuliah Pak, jawab saya. "Oh kuliah di Jakarta? Jauh amat mbak. Kedokteran ya? Kuliah di mana?". Sebenernya juga bukan di Jakarta sih, tapi yaudahlah mau nerangin juga lagi capek bingung mau neranginnya kayak gimana. "Bukan Pak, Gizi di UI". Bapaknya balas gini, "Jauh amat sih mbak. Di unair kan ada gizi. UI itu swasta ya mbak? Biaya hidupnya pasti mahal ya mbak sampeyan..." Saya: tersenyum.
2. Pas saya pulang masih zaman2 maba (emang paling sering 'nekat' pulang dalam kondisi kuliah sepadat apapun haha) saya diem di rumah. Eh nenek yang sering transaksi jual beli *asik bahasanya* di warung buat masak cerita. "Lin, tadi kamu ditanyain mbak X, si Y, mas Z, mbah T lho. 'Oalah...mbak Lini pulang to mbah?'. 'Mbak Lini kerjo nopo to mbah (mbak Lini kerja apa sih mbah?) Di Jakarta banyak artisnya kan mbah, pasti mbak Lini sering ketemu ya mbah?'" Pas saya nanya simbah jawab apa, beliau bilangya kalo saya ga kuliah disana, saya kuliah alias sekolah. Saya: kembali tersenyum.
3. Ini yang terbaru. Minggu kemarin saya pulang dan naik kereta Gumarang. Ntah kenapa saya capek banget dan ngerasa agak wasting time kalo harus turun ke Surabaya dan pergi ke Gresik. Naik angkotnya itu lho, lama banget, bisa2 nyampe rumah jam 11an...Nah, akhirnya saya disuruh ayah turu di stasiun Lamongan an yap saya nurut. Tapi pertama kali pas menginjakkan kaki ke stasiun itu saya ngelihat banyak orang ngelihat saya ditambah lagi muka bingung saya yang gatahu ini stasiun ada di Lamongan sebelah mana dan saya harus naik apa supaya bisa ke Benjeng??? Oke, Lini stay calm, cooling down, and go ahead. Is there anything wrong? My luggage? My clothes?? Bismillah, innallaha ma'ana innallaha ma'ana..Lini tidak sendirian disini, jalan tersu Lin jalan terus. Eh, di deket pintu keluar saya banyak dihadang tukang becak, tukang ojek, tukang mobil pribadi, aduh cemas banget karena jadi tambah bingung. Dengan koper saya yg berisi sebuah laptop saya terus berjalan sampe ke jalan raya dan selalu mengulurkan tangan plus muka senyum bilang "makasih pak,,,mboten (engga)" Mau kemana neng...mau kemana...naik ojek neng... Dah tambah bingung lagi. Nyari polisi atao petugas ato siapa kek yang berseragam gitu gada T.T Dan apa yang saya lakukan? Main nyeberang ke jalan dan ngelambaiin tangan ke angkot yang gada tulisannya mau kemana. Eh malu bgt ketauan salah karena angkot yg seharusnya saya naiki itu berlaian arah dengan yang saya tanyain. Haha. Nyebrag lagi deh bawa-bawa koper dan saya kan paling gabisa nyeberang plus itu jalan raya dilewati bus-bus antarpropinsi dan truk truk gede pengangkut semen. Nekat aja berbekal pengalaman menyeberang di jalan raya margonda *wuohoo* Eh tapi karena begitu, saya jadi banyak dimarahin bapak2, katanya saya serem banget nyeberangnya...
Hikmah?
Hehe. Banyak bgt. Yg pertama, pulang kampung itu sesuatu banget apalagi kalo bawa koper,siap2 diliatin banyak orang, dikirain kabur dari rumah, dan waswas karena isinya laptop. Kedua, UI itu masih awam buat bapak2 sopir *ehem jadi inget spanduk di jalanan pocin*. Kontribusi ke arah masyarakat bawah masih kurang dirasakan. Ketiga, wanita seusia saya lebih wellknown dengan aktivitas 'bekerja' daripada ber'kuliah'. Pendidikan untuk masyarakat desa masih menjadi sesuatu yang eksklusif karena memang harga pendidikan di Indonesia masih mahal. Ada juga persepsi yang masih hidup di masyarakat bahwa kita bersekolah untuk mencari pekerjaan. Terbukti dengan banyaknya teman2 saya yang di desa memilih untuk sekolah di STM, medapatkan ijazahnya, lalu bekerja dengan tiket masuk ijazah tersebut. Gada yg salah dengan STM. Gada yg salah juga dengan persepsi itu. Sama halnya dengan persepsi, besok makan apa dengan besok makan dimana? Beda kan? Persepsi tersebut akan lebih baik lagi kalau menjadikan pendidikan sebagai 'kebutuhan' bukan hanya 'tiket masuk kerja'. Nah, tetapi tak dapat dipungkiri, kesejahteraan masyarakatlah yang banyak mempengaruhi persepsi tersebut. Keempat, selentingan UI itu jauh kok mau sih mbak kuliah disana agaknya menimbulkan kembali kegalauan saya. Benarkah pilihan saya untuk meneruskan studi di UI yg berarti akan sangat memberatkan ortu saya dalam hal pembiayaan. Ya, anggap saja ini jalan saya dan jalan orangtua saya. Tidak pernah ada kebetulan di dunia ini bukan? Intinya saya harus bekerja keras dan mungkin harus melebihi orang2 lain agar tdk menyiakan kesempatan ini...
Banyak hal ya di sekitar kita yang kalau kita telaah, mampu menjadikan kita lebih dewasa dan bijaksana untuk menatap masa depan kita. Take it or leave it. Maybe your life will not being easier, but from it we are getting stronger than ever:)
Semangat!
Sabtu, 21 Januari 2012
Pulang Kampung :)
Yap, tulisan ini ditulis ketika saya sedang padat prepare buat pulkam, ke Gresik, sebuah kota kecil di ujung timur atas Pulau Jawa.
Alhamdulillah, akhirnya bisa juga liburan. Setelah semester yang tak terduga ini. Semester yang sempet saya anggap lebih lenggang, lebih mudah daripada semester 'jarang tidur' saya yang kemarin-semester 4, ternyata memberikan warna mencolok yang sulit untuk saya terima. Berkeluh-keluh dalam tubian tugas lapangan yang 'biasa tak terduga', jadwal kuliah yang 'serba dadakan', sampai beberapa mobilitas yang membuat orang menganga. Tapi ya setelah dijalani, kadang membuat bibir menyungging senyum dan heran, masih bisa senyum, subhanallah. Otak yang sudah dipeluti metlit harus berbagi ruang dengan laporan psg yang ngepul beratus ratus halaman di neuron-neuron saya yang rasanya, subhanallah. Beberapa penawar, berdoa agar ibu PJ modul ini memberikan nilai A agaknya juga tidak tersukseskan. Walau begitu saya syukuri...
Liburan semester ini seakan memberikan tirai untuk saya sekedar bermuhasabah. IPK, ilmu, dan kegiatan lainnya. Di rumah, mungkin saya akan melihat wajah-wajah kerabat yang semakin membuat saya bahagia. Dua adik kecil yang selalu menemani tidur malam saya. Ibu yang selalu perhatian, nenek yang lucu, dan ayah yang sangat humoris membuat saya ah berat untuk bertemu dan berpisah lagi.
Gumarang, sebuah kereta yang selalu setia menemani hilir mudik saya, dari Gresik ke Depok. Membawa saya dan mimpi-mimpi saya, menuturkan bagaimana sebuah kata perjuangan harus diwujudkan. Mengantarkan seorang gadis ini pergi dari rumahnya sendirian, dan ketika sudah sampai di Jakarta, transit dengan commuter menuju Depok, berjalan beberapa puluh langkah sampai kemudian di sebuah kosan, ah,,sambil menghela beberapa nafas dan tersenyum pada diri sendiri-menegakkan beberapa target, yah, aku datang.
Liburan dan pulang kampung bagi saya tak kurang dan tak lebih memmiliki makna mendalam. Recharge, reminder, dan reward bagi saya pribadi. Gumarang, kereta kesayangan yang dengan harga murah akan mengantarkan saya besok ke surabaya...tak bisa ditunggu lebih lama lagi. . .
Selamat liburan semuanya:)
Alhamdulillah, akhirnya bisa juga liburan. Setelah semester yang tak terduga ini. Semester yang sempet saya anggap lebih lenggang, lebih mudah daripada semester 'jarang tidur' saya yang kemarin-semester 4, ternyata memberikan warna mencolok yang sulit untuk saya terima. Berkeluh-keluh dalam tubian tugas lapangan yang 'biasa tak terduga', jadwal kuliah yang 'serba dadakan', sampai beberapa mobilitas yang membuat orang menganga. Tapi ya setelah dijalani, kadang membuat bibir menyungging senyum dan heran, masih bisa senyum, subhanallah. Otak yang sudah dipeluti metlit harus berbagi ruang dengan laporan psg yang ngepul beratus ratus halaman di neuron-neuron saya yang rasanya, subhanallah. Beberapa penawar, berdoa agar ibu PJ modul ini memberikan nilai A agaknya juga tidak tersukseskan. Walau begitu saya syukuri...
Liburan semester ini seakan memberikan tirai untuk saya sekedar bermuhasabah. IPK, ilmu, dan kegiatan lainnya. Di rumah, mungkin saya akan melihat wajah-wajah kerabat yang semakin membuat saya bahagia. Dua adik kecil yang selalu menemani tidur malam saya. Ibu yang selalu perhatian, nenek yang lucu, dan ayah yang sangat humoris membuat saya ah berat untuk bertemu dan berpisah lagi.
Gumarang, sebuah kereta yang selalu setia menemani hilir mudik saya, dari Gresik ke Depok. Membawa saya dan mimpi-mimpi saya, menuturkan bagaimana sebuah kata perjuangan harus diwujudkan. Mengantarkan seorang gadis ini pergi dari rumahnya sendirian, dan ketika sudah sampai di Jakarta, transit dengan commuter menuju Depok, berjalan beberapa puluh langkah sampai kemudian di sebuah kosan, ah,,sambil menghela beberapa nafas dan tersenyum pada diri sendiri-menegakkan beberapa target, yah, aku datang.
Liburan dan pulang kampung bagi saya tak kurang dan tak lebih memmiliki makna mendalam. Recharge, reminder, dan reward bagi saya pribadi. Gumarang, kereta kesayangan yang dengan harga murah akan mengantarkan saya besok ke surabaya...tak bisa ditunggu lebih lama lagi. . .
Selamat liburan semuanya:)
Minggu, 15 Januari 2012
Berusaha bernafas sejenak
Bernafaslah sejenak, sambil menghapus air matamu, meluruskan niatmu, memahami hikmah kejadian lalu, mngukir semangat baru. Berhentilah sejenak. Bernafaslah sejenak...Entah mengapa ada beberapa hal yang meneyelubungi hati. Membuat dada agak sesak. Mangurai air mata kekecewaan yang harusnya sudah berhenti sejak beberapa minggu lalu. Mungkin saya butuh curhat. Butuh cerita. Saya butuh penghibur. Dalam setiap doa yang saya panjatkan, saya selalu berdoa untuk dapat mencapai beberapa pencapaian. Namun pada akhirnya, Allah menentukan. Lalu, hati saya masih takjub. Masih sedih. Masih butuh beberapa kata dari orang lain untuk membantu menguatkan saya, meski hanya sekedar berujar bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak usah cemas. Tidak usah khawatir. Kamu sudah melakukan hal semaksimal mungkin. Kamu hanya perlu menunggu waktu hingga hal yang lebih indah akan terjadi. Tapi, saya tahu semua orang sedang sibuk. Saya juga. Saya harus terus berjalan meskipun sandal untuk pijakan kaki saya sedang rusak dan butuh diganti. Tapi orang lain tidak peduli. Kebanyakan dari mereka egois. Saya harus tetap berjalan...agar semuanya tetap baik-baik sajja-meskipun hati saya tidak. Saya harus tersenyum di depan mereka, berisyarat bahwa tidak ada yang terjadi. Semuanya baik-baik saja. Ada masalah apa? Saya saja yang meng-handlenya. Saya saja yang mengerjakannya. Saya saja... Jangan Anda mengeluh, sini sini biar saya saja yang mengerjakannya...
Lalu hari ini datang. Membawa saya pada satu titik dimana saya kembali harus menambal sandal untuk berlari. Saya pun malu. Malu karena sangat manja. Mudah mengeluh. Tapi sesempurna apa saya, saya juga ingin untuk dimengerti. Saya ingin orang-orang yang berhubungan dengan saya menngambil inisiatif sendiri dan sekedar bilang, Lini, jangan begitu....sini, mari kita berjalan bersama. Saya menginginkan itu, tapi tidak ada. Semua sibuk. Semua punya urusan. Saya juga. lalu saya mengorbankan mimpi pribadi saya. Ah, semoga Allah yang tahu yang membalasnya.
Saya bukan tipe orang yang tegaan. Tapi saya juga bukan seorang wanita robot. Tak punya keringat. Tak punya keluh. Tak punya urusan lain. Saya mungkin tidak tegas. tapi bukan berarti itu saya tidak bisa berbuat tegas. Saya bisa. Tapi saya lebih memilih keindahan persahabatan. Saya lebih suka di belakang layar. Saya lebih memilih untuk terasing daipada harus menuruti idealisme orang lain yang tidak senada dengan saya. Saya lebih memilih untuk diam daripada bersuara dalam keluhan dan mencaci. Saya lebih baik terdampar....
Tidak tahu bagaimana semua ini mengepul bagaikan asap dalam otak dan jiwa saya....
Semuanya akan baik2 saja, bukan?
Senin, 09 Januari 2012
Dipole-Dipole polar non-polar
Subhanallah,
minggu ini benar-benar padat pikiran. Membayangkan tugas yang berderet kayak wating list bener-bener ga enak banget. Harus sering ke kampus, bersore-sore, dari jam delapan sampai maghriban. Bahkan kalau ada kegiatan masa laten ngampus bisa lebih panjag lagi sampai di kosan kekunci dan izin terus sama bapak. Untung bapak kosan cukup mengenal saya sehingga ga pernah dimarahin justru sekilas bapak ngelihat muka saya yang cemas bin panik bin ga enak langsung senyum sambil bertutur menenangkan hati saya, "Udah... Gapapa..."
Dengan kesibukan ini saya merasa ada banyak hikmahnya selain pengetahuan yang bertambah. Saya jadi lebih mengenal siapa teman satu jurusan saya dari kebiasaannya. Ada yang baik sekali, pemaaf, pemalu, banyak omong, sampai gaul, dan ngeselin pun ada. Untungnya, sekali lagi saya bersyukur memiliki sifat plegmatis yang membuat diri saya diam dan sanguinis yang membuat saya mudah bergaul.
Herannya dengan kedekatan ini ada beberapa titik tolak menolak seperti gaya dipol atau apalah itu saya lupa. Semakin banyak pikiran semakin saya ingin menarik diri dari kampus. Begitu juga di kosan. Ada beberapa hal yang sangat membuat saya nyaman di dalam kamar - tugas!
Gatahu kenapa nulis tulisan ini, beneran. Mungkin karena kritikan dari kakak kosan yang bilang kalo akhir-akhir ini saya ansos atau so atau study oriented atau apalah itu. Saya anti sosial? Kembali lagi, hati nurani saya agak tersentil. Orang bilang sesuatu karena mungkin merasakan sesuatu itu juga. Masakan ada asap tapi tak ada api? Intinya ya, mungkin saya sering banget stay di dalam kamar. Keluar kamar kalo mau ke kamar mandi atau cuma makan bareng, selebihnya jarang keluar kamar. Beda banget dengan saya yang dulu. Tiap maghrib selalu makan bareng dengan mereka yang sudah saya anggap keluarga di kosan. Bercanda dan dibercandain. Paling rame. Paling suka cerita-cerita horor. Yah, sekarang pun saya ngerasa saya agak menarik diri dari mereka. Ga tahu kenapa.
Pikiran saya sih karena lagi banyak tugas kali ya. Sisi jelek saya adalah sulit buat percaya sama orang lain. Saya kalau sama tugas akademik paling percaya sama diri sendiri. Serba takut kalo tugasnya ada yang kurang atau gimana-gimana. itu sisi jelek saya. Aww...Padahal sih saya yakin mereka juga sebenernya kalo dikasih amanah ya bisa diandalin juga sih...tapi kan ada juga yang enggak.
Yah yah...semester lima mengingatkan kembali pada banyak hal:)
minggu ini benar-benar padat pikiran. Membayangkan tugas yang berderet kayak wating list bener-bener ga enak banget. Harus sering ke kampus, bersore-sore, dari jam delapan sampai maghriban. Bahkan kalau ada kegiatan masa laten ngampus bisa lebih panjag lagi sampai di kosan kekunci dan izin terus sama bapak. Untung bapak kosan cukup mengenal saya sehingga ga pernah dimarahin justru sekilas bapak ngelihat muka saya yang cemas bin panik bin ga enak langsung senyum sambil bertutur menenangkan hati saya, "Udah... Gapapa..."
Dengan kesibukan ini saya merasa ada banyak hikmahnya selain pengetahuan yang bertambah. Saya jadi lebih mengenal siapa teman satu jurusan saya dari kebiasaannya. Ada yang baik sekali, pemaaf, pemalu, banyak omong, sampai gaul, dan ngeselin pun ada. Untungnya, sekali lagi saya bersyukur memiliki sifat plegmatis yang membuat diri saya diam dan sanguinis yang membuat saya mudah bergaul.
Herannya dengan kedekatan ini ada beberapa titik tolak menolak seperti gaya dipol atau apalah itu saya lupa. Semakin banyak pikiran semakin saya ingin menarik diri dari kampus. Begitu juga di kosan. Ada beberapa hal yang sangat membuat saya nyaman di dalam kamar - tugas!
Gatahu kenapa nulis tulisan ini, beneran. Mungkin karena kritikan dari kakak kosan yang bilang kalo akhir-akhir ini saya ansos atau so atau study oriented atau apalah itu. Saya anti sosial? Kembali lagi, hati nurani saya agak tersentil. Orang bilang sesuatu karena mungkin merasakan sesuatu itu juga. Masakan ada asap tapi tak ada api? Intinya ya, mungkin saya sering banget stay di dalam kamar. Keluar kamar kalo mau ke kamar mandi atau cuma makan bareng, selebihnya jarang keluar kamar. Beda banget dengan saya yang dulu. Tiap maghrib selalu makan bareng dengan mereka yang sudah saya anggap keluarga di kosan. Bercanda dan dibercandain. Paling rame. Paling suka cerita-cerita horor. Yah, sekarang pun saya ngerasa saya agak menarik diri dari mereka. Ga tahu kenapa.
Pikiran saya sih karena lagi banyak tugas kali ya. Sisi jelek saya adalah sulit buat percaya sama orang lain. Saya kalau sama tugas akademik paling percaya sama diri sendiri. Serba takut kalo tugasnya ada yang kurang atau gimana-gimana. itu sisi jelek saya. Aww...Padahal sih saya yakin mereka juga sebenernya kalo dikasih amanah ya bisa diandalin juga sih...tapi kan ada juga yang enggak.
Yah yah...semester lima mengingatkan kembali pada banyak hal:)
".......kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat."
(.....Waja'alna ba'dokum liba'din fitnata. Atoshbiruuna wa kaana robbuka bashiiroo)
-Q.S. Al-Furqon ayat 20-
Minggu, 08 Januari 2012
#tentang cinta
"Aku tersesat menuju hatimu. Beri aku, jalan yang indah. Izinkanku lepas penatku, tuk sejenak lelah di bahumu... Tentang cinta, yang datang perlahan. Membuatku takut kehilangan. Kutitipkan cahaya terang, tak padam didera noda dan masa.... (tentang rasa, astrid)"
Aku bersyukur karena aku merasakan jatuh cinta. Kemarin, hari ini, dan mungkin esok hari. Tetapi ini sungguh berbeda. Aku bahagia bukan karena keindahan rasa yang timbul dari suatu gejolak, bukan... Bukan seperti mereka yang sedang berpacaran, jalan berdua, atau apapun itu...bukan,
Aku jatuh cinta kepada seseorang. Seperti ayahku-ayahmu pada ibuku-ibumu dan sebaliknya, Fatimah Azzahra pada Ali bin Abi Thalib, atau seperti Habibie dan Ainun. Aku tertawan oleh suatu sistem perasaan manusiawi yang secara tiba-tiba menyelubungi relung-relung hatiku. Aku tak mampu menolak perasaan ini. Bukankah cinta itu anugerah dari ilahi?
Aku jatuh cinta dan rasa itu bersemi kian lama di jiwaku. Membuatku tersenyum dalam embun-embun yang begitu menyejukkan. Menari dalam nada-nada jiwa yang merdu. Hingga aku sadari aku betul-betul terbuai di dalamnya.
Dan aku wanita. Rasa ini datang pada seorang wanita kecil seperti aku. Cinta ini bercerita banyak hal pada wanita kecil ini, menjumpainyanya dalam bentuk abstraksi yang tak pernah ia kenal sebelumnya, kemudian masuk ke dalam hamparan sanubarinya yang dahulu hanyalah sebuah ruang kosong.
Dan ketika aku jatuh cinta, cukup bagiku rasa ini. Belum membutuhkan sesuatu yang lebih kecuali jika sudah tiba saatnya nanti, aku dan rasa ini bersatu dalam suatu ikatan yang diberkahi. Maka, ketika orang bertanya pada wanita ini, dengan siapa ia sedang jatuh cinta... Cukup aku dan rasa ini yang tahu di bawah semua pengaturannya. Bukankah semua akan indah pada waktunya?
Karena aku tidak menuntut terhadap cinta kecuali suatu ketulusan sebagaimana fitrahnya berasal. Biarlah Tuhanku yang mengaturnya. Dialah Yang Maha Tahu dan Mengetahui. Jika aku jatuh cinta, aku serahkan semuanya kepadaNya, sebagai bukti bahwa aku mencintainya dengan sungguh-sungguh.
Mungkin dua, tiga, atau empat tahun lagi... Aku berharap begitu:) Entah... Allah yang mengatur cinta, mengatur hidup, dan mengatur semua rencana.
Selasa, 03 Januari 2012
Movie of the Week
Assalammu'alaykum
Semoga selalu dalam lindungan Allah:)
![]() |
| backgroup film |
Hari ini kakak kosanku ada yang habis menunaikan tugas seminar untuk skripsinya. Tentu aja, lelah atau jenuh...Jadi kita memutuskan untuk nonton ke bioskop di mall sebelah kosan. Untungnya ada film Hafalan Shalat Delisa yang lagi nge-hits banget. Ya, ini film Indonesia, buatan para cinemas Indonesia, untuk itu: patut ditonton. Tapi sejujurnya nonton film ini ga kepaksa karena ini made by Indonesia kok:) Film ini diangkat dari sebuah novel karangan novelis terkenal Tere Liye, dengan judul yang sama pula. Seperti novel Ayat-Ayat Cinta, film ini berlatar kisah islami, tepatnya tentang perjuangan seorang anak sholihah di tengah cobaan tsunami. Rohani juga perlu di-charge kan? Jadi recommended banget deh buat nonton film ini, very inspiring:D
Ada seorang anak kecil bernama Delisa. Delisa ini tinggal di sebuah rumah tepat di pinggir pantai di Lok Ngah (Aceh) bersama ibunya-diperankan Nirina Zubir, Kak Fatimah, dan si kembar Aisyah dan Zahra. Ayah Delisa ini adalah seorang pelaut yang jarang pulang-diperankan Reza Rahardian. Delisa ini anaknya ceria, cerdas, dan agak sedikit usil. Rasa ingin tahunya besar, semangatnya tinggi, dan sangat tegar.
![]() |
| Delisa menghafal |
Keluarga Delisa ini sangat taat beribadah. Setiap hari selalu shalat berjama'ah. Bahkan ketika Delisa lupa waktu saking keasyikan main bola, ibunya menunggunya untuk ikutan shalat bersama. Cerita dimulai dengan tugas praktik hafalan shalat yang diberikan oleh ustadz Rahman-diperankan Fathir Muchtar. Ibu Delisa menjanjikan Delisa hadiah berupa kalung kalau dia hafal bacaan shalat. Dari semua keluarganya, Delisa ini terbilang anak yang paling usil, suka sekali meminta hadiah pada orang-orang terdekatnya. Suatu ketika, ibunya mengajak Delisa ke toko emas Ko-diperankan Joe Project Pop. Disana Delisa memilih hadiah berupa sebuah kalung dengan hiasan huruf D yang melambangkan Delisa, namanya. Namun, dibelikan sebuah kalung bukan berarti otomatis kalung itu sah menjadi milik Delisa. Ia harus hafal dulu bacaan shalat ketika nanti ujian praktik.
Suatu ketika, ia mengaji bersama ustadz Rahman. Sang ustadz bercerita tentang kekhusyukan shalat. "...bahkan dahulu, ada seorang sahabat yang saking khusyu' shalatnya, beliau tidak sadar sedang digigit kalajengking." Delisa yang cerdas bertanya-tanya kenapa bisa begitu. "Karena fokus, Delisa. Fokus pada suatu hal". Tampaknya perkataan ustadz Rahman itu benar-benar Delisa ingat. hari demi hari berlalu. Ketika hari dimana Delisa dan teman-temannya harus melakukan ujian praktik hafalan shalat pun tiba. Hari itu tepat pada tanggal 26 Desember 2004. Sebelum berangkat ke sekolahnya, sempat terasa gempa besar di Aceh. Delisa dan keluarganya sempat ketakutan dan panik. Namun setelah gempa berhenti, Delisa dan ibunya tetap pergi ke sekolah sedangkan kakak-kakaknya tetap berada di rumah yang berada di dekat pantai itu.
Nasib orang tiada yang tahu. Hanya pada Allah lah kita memohon pertolongan.
Di hadapan ustadz Rahman, Delisa harus mempraktikan gerakan dan hafalan shalat. Ibunya melihat dari jendela dan terus memberi semangat untuk anaknya. Kalung calon hadiah itu pun terus diperlihatkan pada Delisa agar ia bersemangat dan dapat lulus ujian. Maka Delisa pun memulai membacakan hafalannya dengan berbalut mukenanya. Anak kecil itu mencoba khusyu' seperti apa yang dikatakan ustadznya, berusaha fokus seperti sahabat Rasulullah, hanya satu, Allah. Di tengah ujian itupun gempa datang lagi namun yang ini disertai dengan tsunami. Semua murid dan ibu berlarian keluar. Tetapi Delisa tetap membaca hafalannya, dalam kekhusyukannya. Ibunya panik, memanggil-manggil Delisa, mencoba menariknya, namun....*saksikan kelanjutannya di bioskop ya*
Em..ga kerasa udah berapa kali nangis di bioskop. Anak kecil itu selalu menginspirasi. Delisa mengajarkan banyak hal. Tentang arti keikhlasan, ketegaran, keceriaan, ketaatan beribadah, ketulusan, suatu kepercayaan, cinta...banyak...
Sedih banget ceritanya. Tapi sangat motivatif. Pemainnya pun berbobot. Lihat saja deretan artis papan atas yang aktingnya bener-bener oke sekelas Nirina Zubir dan Reza Rahardian. Bener-bener deh, Reza Rahardian. He's cool and definetly cool. Aktingnya sungguh mengesankan. Ekspresinya betul-betul ekspresif. He looks like so smart.
Senin, 02 Januari 2012
#untuknya
hati yang berkata dalam makna terdalamtak mampu kukenali
mengungkapkan,
sesuatu dan cukuplah dalam diam
bintang yang berpijaran menyeru, lagi
karena suatu titik yang,
menyelubuk dalam nurani keabadian
Langganan:
Komentar (Atom)




