Selasa, 27 September 2011

Dampak Gempa Bumi terhadap Kehamilan


Hasil penelitian Universitas California, Amerika Serikat yang dipresentasikan pada pertemuan American Psychological Society di Miami, menyimpulkan bahwa stres akibat gempa bumi menyebabkan kelahiran prematur pada kehamilan muda. Penelitian dilakukan pada wanita hamil korban gempa dengan skala 6,7 SR yang terjadi di Northridge, California, pada Januari 1994. Tercatat lebih dari 50 orang meninggal, ribuan penduduk mengalami luka-luka, dan bencana itu menyebabkan kerugian materi hingga US$ 40 miliar. Sebanyak 40 wanita hamil diteliti. Setelah mengalami dampak gempa, usia kelahiran bayinya kemudian didata. Ternyata bayi-bayi mereka lahir lebih cepat dari kelahiran normal pada usia kandungan 40 minggu. Penelitian ini menunjukkan bahwa gempa bumi mempercepat jam biologis plasenta atau ari-ari. Percepatan itu tak lain akibat ibu hamil mengalami stres ketika terjadi gempa. "Efeknya mempengaruhi masa kehamilan," kata Laura Glynn, salah satu penggagas penelitian. Semakin muda usia kehamilan saat terjadi gempa, makin bergegas pula bayi itu lahir. Wanita dalam tiga bulan pertama kehamilan tercatat menunjukkan gejala perubahan ekstrem. Sedangkan pada wanita dengan kehamilan di bulan-bulan terakhir, perubahannya agak moderat. Penelitian itu juga menghasilkan beberapa hal penting tentang fungsi plasenta. Menurut Glynn, plasenta bukan hanya menjadi filter yang bersifat pasif antara ibu dan jabang bayi. Ternyata, plasenta juga berfungsi sebagai organ endokrin  yang bereaksi dan mempengaruhi produksi hormon serta peptida (rantai protein yang berpengaruh pada pertumbuhan) selama kehamilan. Hormon dan protein yang dihasilkan akan dibawa melalui sirkulasi aliran darah antara sang ibu dan orok. Akibatnya akan berpengaruh dalam mekanisme psikologis yang ikut menentukan jangka waktu kehamilan. Tentu saja hasil penelitian itu bisa pula berlaku bagi faktor-faktor selain gempa yang bisa menyebabkan ibu hamil mengalami stres, entah stres akibat problem keluarga ataupun pekerjaan. Sementara itu, hasil penelitian terdahulu yang menyatakan kelahiran prematur bisa pula mengakibatkan cacat pada bayi tentu juga tetap berlaku. Pada penelitian terdahulu disebutkan pula bahwa stres bisa menimbulkan kerusakan pada pandangan, pendengaran, dan menyebabkan melemahnya intelektualitas. Selain itu, komplikasi pada pernapasan, sistem pencernaan makanan, dan sistem ginjal juga punya risiko yang tak kalah tinggi. Stres juga meningkatkan kemungkinan keguguran.

Daftar Pustaka:
Agung Rulianto, Bayi Prematur Akibat Gempa. dalam Harian Bengkulu. 12 Juli 2000.

Tidak ada komentar: