Minggu, 06 Maret 2011

Fortifikasi Pangan


Minyak Goreng merupakan salah satu jenis pangan yang difortifikasi


Fortifikasi pangan adalah penambahan satu atan lebih zat gizi (nutrien) ke pangan (Siagian, 2003). Sebenernya, fortifikasi makanan mengacu kepada beberapa konsep yang luas dan mungkin dilakukan untuk beberapa alasan. Pertama adalah untuk mengembalikan zat gizi yang hilang selama pengolahan makanan, proses ini disebut sebagai enrichment. Dalam hal ini, zat gizi ditambahkan ke dalam makanan dengan jumlah yang hampir mendekati jumlah zat awal sebelum pemrosesan makanan. Alasan kedua adalah untuk  menambah zat gizi yang  tidak terdapat dalam makanan secara alami, proses ini disebut sebagai fortifikasi.  Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat gizi yang ditambahkan untuk meningkatkan status gizi populasi. Peran pokok dari fortifikasi pangan adalah pencegahan defisiensi sehingga menghindari terjadinya gangguan yang membawa kepada penderitaan manusia dan kerugian sosio-ekonomi. Namun demikian, fortifikasi pangan juga digunakan untuk menghapus dan mengendalikan defisiensi zat gizi dan gangguan yang diakibatkannya. Istilah double fortification dan multiple fortification digunakan apabila 2 atau lebih zat gizi, masing-masing ditambahkan kepada pangan atan campuran pangan. Pangan pembawa zat gizi yang ditambahkan disebut Vehicle, sementara zat gizi yang ditambahkan disebut Fortificant. Fortifikasi dapat diterapkan untuk tujuan-tujuan berikut:
      Untuk memperbaiki kekurangan zat-zat dari pangan (untuk memperbaiki defisiensi akan zat gizi yang ditambahkan).
•   Untuk mengembalikan zat-zat yang awalnya terdapat dalam jumlah yang siquifikan dalam pangan akan tetapi mengalami kehilangan selama pengolahan.
•   Untuk meningkatkan kualitas gizi dari produk pangan olahan (pabrik) yang digunakan sebagai sumber pangan bergizi misalnya susu formula bayi.
•   Untuk menjamin ekuivalensi gizi dari produk pangan olahan yang menggantikan pangan lain, misalnya margarin yang difortifikasi sebagai pengganti mentega .
Menurut FAO pada Technical Consultation on Food Fortification: Technology and Quality Control  di Roma pada tahun 1995, makanan yang difortifikasi idealnya harus:
·         Umumnya dikonsumsi oleh populasi sasaran.
·         Memiliki pola konsumsi yang konstan oleh msyarakat dan berisiko rendah bila dikonsumsi dalam jumlah berlebih.
·         Memiliki stabilitas ynag baik dalam penyimpanan.
·         Relatif rendah dalam baiaya.
·         Diproses terpusat dengan stratifikasi minimal.
·         Tidak terjadi interaksi anatara fortifikan dengan vehicle.
·         Ketersediannya tidak berhubungan dengan status sosio-ekonomi.
·         Dikaitkan dengan asupan energi.


Daftar Pustaka

Anonim. Tanpa Tahun. ”Food Fortification: Need for A More Proactive Approach” dalam http://www.mostproject.org/PDF/4pagefortcolor.pdf diunduh pada 3 Maret 2011 pukul 16.13wib.
Gregory D. Orriss. Tanpa tahun. Food fortification: Safety and legislationhttp://unu.edu/unupress/food/V192e/ch04.htm. diunduh pada 3 Maret 2011 pukul 16.00wib.
Mejia, Luis A.. Tanpa Tahun. “Fortification of foods: Historical Development and Current Practices” dalam http://unu.edu/unupress/food/8F154e/8F154E03.htm diunduh pada 5 Maret 2011 pukul 11.28wib.
Siagian, Albiner. 2003. “Pendekatan Fortifikasi Pangan untuk Mengatasi Masalah Kekurangan Zat Gizi Mikro”.  http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3762/1/fkm-albiner5.pdf. diunduh pada 2 Maret 2011 pukul 20.55wib.


Al'Itiraf (Pengakuan)


Ketika saya membuka facebook, salah satu status teman saya mengingatkan saya pada sebuah lagu, seperti ini:



(Al-I'tiraaf)

Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa 'alaa naaril jahiimi

Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil 'azhiimi

Dzunuubii mitslu a'daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali

Wa 'umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali

Ilaahii 'abdukal 'aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da'aaka

Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaak



Dalam bahasa Indonesia

Sebuah Pengakuan
Tuhanku... aku tidak layak memasuki syurga Firdaus
Dan aku pun tak mampu menahan siksa api Neraka
Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkaulah Pengampun dosa-dosa besar
Dosa-dosaku amatlah banyak bagai butiran pasir
Terimalah taubatku, wahai Yang Maha Agung
Umurku berkurang setiap hari, sedang dosa-dosaku terus bertambah
Bagaimana aku sanggup menanggungnya?
Tuhanku... hamba-Mu yg durhaka ini datang bersimpuh menghadap-Mu
Mengakui dosa-dosa dan menyeru memohon kepada-Mu
Bila Kau mengampuni, Engkaulah Sang Pemilik Ampunan
Bila Kau campakkan aku, kepada siapa aku mesti berharap selain dari-Mu?


Salah satu lagu yang membuat saya menangis. Coba Anda dengarkan....renungkan...mungkin air mata pun tak bisa dihindari untuk menetes.
Lagu ini memiliki kisah, menurut sumber yang sama, beginilah kisahnya:

Tersebutlah kisah seorang Sahabat yg baru kembali dari medan perang. Saat berada di pintu rumahnya, secara tidak sengaja tiba-tiba nampak olehnya betis seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri sahabatnya yg ketika itu sedang bertamu di rumahnya. Seketika itu juga ia melompat keluar dari pintu dan berlari meninggalkan rumahnya, menuju tempat yg sepi, selama bertahun-tahun, untuk bertaubat kepada Allah SWT atas ketidaksengajaannya. Rintihan taubatnya itulah yg sekarang sering kita dengar dalam lagu Al-I'tiraf.
Begitu bertaqwanya Sahabat ini. Begitu takutnya ia kepada Allah atas kesilapannya, walaupun tak sengaja. Ia menyesal, mengapa sampai terjadi perkara yg hina itu padanya? Tentu ada maksud Allah. Mungkin ini sebagai hukuman Allah karena iapun masih suka berbuat begitu, oleh sebab itu Allah pertemukan perkara itu dengannya. Perasaan itu membuat ia begitu takut dan malu dengan Allah, sehingga ia menghukum dirinya sendiri dan tidak mau pulang ke rumahnya selagi dirinya belum bisa menjadi manusia yg baik, sebaik yg Allah kehendaki.
Sahabat yg mulia ini, adalah seorang tokoh yg di Indonesia terkenal dengan cerita-ceritanya yg lucu. Namun sebenarnya ia adalah seorang pujangga, penyair besar di zaman Abbasiyah. Dialah Abu Nawas.
Nama aslinya adalah Al Hasan bin Hani al-Hakami, hidup di tahun 757 — 814 H. Oleh Raja Harun ar-Rasyid, raja yg memerintah di masa itu, ia diangkat sebagai penyair kepercayaan raja. Ia sangat dikagumi dan dikenal karena kepiawaiannya mengungkapkan kegemaran dan kesenangannya pada anggur dengan kalimat-kalimat yg indah. Abu Nawas pada mulanya adalah seorang yg hedonis, namun pada tahun-tahun terakhir kehidupannya ia bertaubat. Syair I'tiraf ini merupakan salah satu syair taubatnya yg paling termasyhur di Nusantara.

Jumat, 04 Maret 2011

kisahku sekarang ini

Lama tak bersua dengan blog yang saya buat. Ada beberapa hal yang membuat saya malas ngeblog akhir-akhir ini, pertama:tugas kuliah yang ampun bgt, kedua: tugas hidup lain, dan ketiga:kesalahan penulisan pada blog saya.

Anyway, tetep kan sekarang saya nulis lagi... Nah, ada beberapa hal penting yang berubah dalam hidup saya. Saya baru saja merubah orang dan saya juga baru saja dirubah hidupnya oleh seseorang.

Saya merasa ada beberapa hal yang membuat diri saya tidak nyaman. Teman. Ya, apalah itu, saya berusaha untuk selalu berteman dengan siapa saja. Tapi, ada suatu keadaan dimana khusunya wanita tidak nyaman berada dalam suatu komunitas yang baginya 'mengancam' atau 'tidak mengenakkan' sehingga apa yang ia lakukan selalu terasa ganjil dan salah.

Saya wanita yang cukup sensitif, saya akui. Nah, tapi kesensitivitasan itulah yang saya gunakan sebagai alat untuk memahami orang lain, tentang bagaimana saya harus memperlakukan orang lain dalam pergaulan, tentang bagaimana sifat welas asih yang harusnya tertanam pada diri masing-masing individu.

Akhir-akhir ini saya sangat getol dengan seseorang karena beberapa hal: tertawa.
Mungkin semua orang boleh tertawa, iya kan?
Atau Anda bercermin pada dalil warkop, "Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang?"
Salah besar bagi saya. Pertama, dalil warkop itu sesungguhnya bukan bsekedar dalil yang berarti Anda harus tertawa sebanyak-banyaknya. Tertawa pun dapat mematikan kepekaan kita terhadap hati, hati pun akan menjadi sangat keras. Dalil itu ditujukan untuk mengkritisi rezim orde baru sesungguhnya yang sangat otoriter, dimana semua hal dilarang dan dikecam.

Yang menjadi tinjauan saya adalah, apakah menertwakan seseorang yang sedang terjatuh atau sedang tidak melakukan apa-apa dengan sudut bibir kian meruncing itu benar adanya?
Apakah itu manusia sesama manusia?
Entahlah, hanya hati nuranimu yang mampu menjawabnya kawan...
Semoga hatimu diluruskkan olehNya

Pengecatan Bakteri


Bakteri terdapat secara luas di lingkungan alam yang berhubungan dengan hewan, tumbuh – tumbuhan, udara, air, dan tanah. Bakteri adalah mikroorganisme bersel tunggal yang tidak terlihat oleh mata, tetapi dengan bantuan mikroskop, mikroorganisme tersebut akan nampak. Panjang bakteri berkisar antara 0,5 – 10 mikron dan lebar 0,5 – 2,5 mikron tergantung dari jenisnya. Pada umumnya ada beberapa bentuk sel bakteri yang kita kenal :
1. Bentuk bulat atau cocci mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:
·       Micrococcus, berbentuk kecil dan tunggal.
·       Diplococcus, berbentuk double
·       Pneumococcus dan diplococcuss berbentuk lanset. Diplococcus yang berbentuk seperti biji kopi disebut gonococcus.
·       Tetracoccus, berbentuk seperti bujur sangkar.
·       Sarcina, berbentuk seperti kubus dan terdiri dari delapan sel yang tersusun rapi.
·       Staphylococcus, bila bentuknya tak teratur menyerupai buah anggur.
·       Streptococcus, berbentuk seperti rantai.
Contoh bakteri bentuk cocci adalah:
·       Clostridium sporogenes, 0,6-0,3 µm x 3,0-7,0 µm
·       Pseudomonas sp., 0,5-1,0 µm x 2,0-3,0 µm
·       Bacillus megaterium, 0,2-1.5 µm x 2,0-4,0 µm
·       Salmonella typhi, 0,6-0,7 µm x 2,0-3,0 µm
       2. Bentuk batang atau bacilli, mempunyai beberapa variasi seperti :
o    Cocobacillus, berbentuk sangat pendek sehingga mirip seperti cocci.
o    Fusiformis, kedua ujungnya meruncing
o    Streptobacillus, berbentuk filamen dengan sel-sel yang bergandengan
3. Bentuk koma atau vibrios.
4. Bentuk spiral atau spirilli, banyak dijumpai sebagai individu sel yang memisah dan berbentuk lengkung, mempunyai variasi sebagai berikut:
·       Vibrio, berbentuk batang yang membengkok.
·       Spirilum, berbentuk spiral kasar, kaku, dan dapat bergerak dengan flagel.
·       Spirochaeta, berbentuk spiral halus, elastis, fleksibel, dapat bergerak dengan filamen aksial.
Contoh bakteri berbentuk spiral atau spirilli adalah :
a.    Borrelia, berbentuk gelombang
b.    Treponema, berbentuk spiral halus dan teratur
c.    Leptospira, berbentuk spiral dengan kaitan pada satu atau kedua ujungnya.
Teknik pewarnaan dilakukan untuk memudahkan mempelajari morfologi, struktur, dan sifat bakteri dalam identifikasinya. Ada beberapa teknik pewarnaan yang kita ketahui yaitu (1) Pewarnaan negatif, (2) pewarnaan sederhana, dan (3) pewarnaan gram.
Pada tahun 1884, seorang ilmuwan berkebangsaan Denmark, Hans Christian Gram (1853-1938) mengembangkan teknik pengecatan gram. Pengecatan gram atau pengecatan diferensial digunakan untuk mengklasifikasikan bakteri ke dalam dua kelompok yaitu gram positif dan gram negatif. Hal ini didasarkan pada warna yang dipertahankan oleh bakteri sesuai dengan sifat fisik dan kimia dinding sel mereka.
Bakteri Gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram-positif akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram-negatif tidak. Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram-negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka (filzahazny, 2008). Teknik pengecatan gram terdiri dari 4 tahapan yaitu :
1.    Primary stain atau warna dasar (kristal violet), berupa pewarna basa dan dapat mewarnai bakteri secara jelas. Semua bakteri dicat ungu sebagai warna dasar.
 2. Mordant (Gram's iodine). Iodin bergabung dengan kristal violet di dalam sel bakteri untuk membentuk kompleks violet – iodine.
 3.   Decolorizer atau bahan pencuci warna (etil-alkohol). Beberapa bakteri dibersihkan dari cat warna dasar (kristal iodin) sementara yang lain tidak terpengaruh.
4.    Secondary or counterstain atau warna pembanding (safranin). Warna dasar bakteri diberi pewarnaan ulang dengan warna merah.
Pengececatan gram memberikan hasil yang berbeda karena adanya perbedaan dinding sel pada tiap bakteri. Dinding sel bakteri gram positif memiliki banyak lapisan peptidoglikan, sementara kompleks kristal violet  - iodin lebih besar daripada kristal violet atau molekul iodine yang memasuki sel, akibatnya kompleks tidak dapat melewati dinding sel yang tebal sehingga bakteri tetap bewarna ungu/violet seperti warna crystal violet. Bakteri gram negatif memiliki lapisan peptidoglikan yang lebih tipis dan sebuah lapisan lipopolisakarida terluar. Alkohol melarutkan liposakarida sehingga kompleks kristal violet – iodin menghapus ulang warna sel. Ketika bakteri diwarnai akibatnya warna merah safranin akan memasuki dinding sel dan menyebabkan bakteri berwarna merah.
Pewarnaan sederhana paling umum digunakan. Pada pewarnaan ini hanya satu jenis cat pewarna yang digunakan untuk mewarnai mikroorganisme. Pewarna yang digunakan pada pewarnaan sederhana bersifat alkali dimana kromofornya bermuatan positif. Tujuan dari pewarnaan sederhana ini adalah untuk mengetahui tipe morfologi dan struktur bakteri.
Meode pewarnaan negatif bukan untuk mewarnai bakteri tetapi mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini mikroorganisme kelihatan transparan/tembus pandang. Teknik ini berguna untuk menentukan morfologi dan ukuran sel. Pada pewarnaan ini olesan tidak mengalami pemanasan atau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan kimia, maka terjadinya penyusutan dan salah satu bentuk agar kurang sehingga penentuan sel dapat diperoleh dengan lebih tepat. Metode ini menggunakan cat nigrosin atau tinta cina (Hadiotomo, 1990).
Struktur di dalam sel pada tempat-tempat yang khas dibentuk oleh spesies ini disebut endospora. Endospora dapat bertahan hidup dalam keadaan kekurangan nutrien, tahan terhadap panas, kekeringan, radiasi UV serta bahan-bahan kimia. Ketahanan tersebut disebabkan oleh adanya selubung spora yang tebal dan keras. Sifat-sifat ini menyebabkan dibutuhkannya perlakuan yang keras untuk mewarnainya. Hanya bila diperlukan panas yang cukup, pewarna yang sesuai dapat menembus endospora. Tetapi sekali pewarna memasuki endospora, sukar untuk dihilangkan. Ukuran dan letak endospora di dalam sel merupakan ciri-ciri yang digunakan untuk membedakan spesies-spesies bakteri yang membentuknya (Dwidjoseputro, 1989).

Diedit dari berbagai sumber

Daftar Pustaka:
Buckle, K. A., etc.. Ilmu Pangan (terj. Hari Purnomo). 2009. Jakarta: UI Press.
Ferdinand, Fiktor dan Moekti Ariwibowo. 2008. Praktis Belajar Biologi. Jakarta: PT Grafindo Media Pratama.         
Filzahazny. Pengantar tentang Bakteri dalam http://filzahazny.wordpress.com/2008/02/16/pengantar-tentang-bakteri/ (diakses pada 4 Maret 2010 pukul 13.17 wib)
Hadioetomo, R. S.. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: PT Gramedia Utama.
James, Joyce. Principles of Science for Nurses (terj. oleh Indah R.W.) . 2002. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Koch, Arthur L.. The Bacteria: Their Origin, Structure, Function, and Antibiosis. 2006. Netherland: Springer.
Prahardika, Indra. “Mikrobiologi Dasar” dalam http://ekmon-saurus.blogspot.com/2008/11/bab-5-morfologi-mikroba.html (diakses pada 1 Maret 2010 pukul 22.22 wib)
WHO. Manual Basic of Basic Techniques for A Health Laboratory. 2003. Geneva: WHO.