Dalam tidur, tadi malam saya bermimpi sesuatu yang tidak ingin saya rasakan. Ketinggalan kereta dan kecopetan. Na'udzubillah... Lalu kejadian ini pun terjadi.
Ayah dan ibu pasti sudah berangkat kerja ke kantor. Rumah hening. Ketiga adik kandung saya ditambah satu adik kecil angkat dari saudara ibu rupanya juga sudah berangkat ke sekolah. Sudah pukul delapan pagi dan keesokan harinya saya harus balik ke Depok. Agak stres hari ini sebenarnya.
Tidak ada pekerjaan apapun. Bosan. Lalu saya menonton tv. Nenek memasak di dapur. Rumah masih kotor. Oke, saya ambil sapu dan pel. (Aduh cepetan deh). Rumah luas itu pun akhirnya kinclong.
Sudah pukul sebelas. Saya belum mandi sih, lalu adik (angkat baru) saya datang dari sekolahnya. Gundul dan kecil seperti tuyul. Kegemarannya meneriaki, menjahili, memaki orang, dan keluyuran. Untungnya dia selalu menjaga kebersihan rumah.
Dia pun makan. Saya yang menemaninya menonton tv. Ampun deh, minumnya apa coba. KOPI!
"Mbak, aku lemparin gelas kopi ini ke arah mbak ya?", katanya.
"Eh, awas aja kalo berani!", tantang gue. "Mbak pukulin kamu ya!", ancam saya.
Gelasnya diterbangin ke kanan dan kiri ke depan saya. Untung tidak tumpah.
Kopinya pun diminum. Airnya sekarang tinggal sedikit dan terlihat ampasnya mengendap di bawah.
"Mbak, aku pukulin ya gelasnya ke mbak". Si tuyul emang suka ngulangin omongan deh.
Belum sempat aku berkutik apa-apa, praaat byuur! Ampasnya ngenain baju dan karpet ruang tamu! Hsss! Langsunglah saya marah. "Dasar! Anak nakal! Ih awas ya! Kamu itu bandel banget tahu ga sih!", hardik saya.
Si tuyul mringis.
Saya berlari ke arah dapur untuk mengadukan hal ini pada nenek. Nenek juga dari arah dapur mengomeli si tuyul itu. Sukurin!
Saya akhirnya masuk ke kamar mandi, mandi sekalian sambil membersihkan noda di baju saya. Sekilas, wajah si tuyul tampak melirik ke arah kamar mandi
Sehabis itu. Gegerlah seluruh rumah. Awalnya saya cuek ketika nenek mulai bertanya-tanya, dimana adik saya itu. "Ah, habis ini juga pulang, Nek! Dia kan seneng banget keluyuran". Detik berganti menit dan jam berganti jam. Si tuyul - sampai ibu dan ayah pulang - belum balik-balik. Hsss! Jangan-jangan ini anak marah, ngambek, dan minggat dari rumah. Serius. Beneran ini anak dicariin seisi desa ga ketemu. Putus asa.
Takut ditambah menyesal saya habis menghardik tuyul kecil itu. Aduh, saya juga ikut mencari kemana-mana tapi belum ketemu. Sandal pun masih ada di rumah. Lima jam mencari Ashar pun tiba. Ibu memakai mukenanya dengan wajah khawatir (tapi makasih ibu, tidak menyalahkan saya sama sekali) tiba-tiba membuka gorden jendela ruang tamu.
"Baa!!!", si tuyul mengagetkan ibu saya sambil cengingisan. Ternyata, dari tadi dia sembunyi di balik gorden. Kebayang ga sih, seisi rumah heboh mencari dia semua lho.
Oke, sekali lagi pembuktian, adik-adikku nakal. Atau memang saya bukan kakak yang baik. Sekali lagi...
Ampun, saya bukan kakak yang baik. Ma'afkan saya, si tuyul kecilku...(kalau kamu sudah bisa baca, kamu akan mengerti, mbak Lini marah karena sangat dan terlalu sayang kepadamu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar